Selasa, 06 Januari 2009

Gado-gado Orkestra Ala Bandung

TRIO Bimbo, Acil, Sam, dan Jaka, diiringi Bandung Orchestra dengan konduktor Amirrudin Sitompul menyanyikan lagu "Sajadah Panjang" dan "Balada Seorang Biduan", pada peluncuran Bandung Orchestra di Gedung Kesenian Sunan Ambu Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Jln. Buahbatu No. 212, Kota Bandung, Senin (22/12) malam.* USEP USMAN NASRULLOH/"PR"
ORKESTRA bukanlah jenis pergelaran musik yang lazim dinikmati masyarakat Indonesia. Bukan soal ketaksesuaian selera. Akan tetapi, lebih karena intensitas pergelaran dalam format konser yang terbilang langka sehingga secara alamiah publik musik tanah air menjadi berjarak dengan orkestra. Oleh karena itu, perlu dimaafkan jika untuk memperkenalkannya sebagai pergelaran musik yang bisa diterima publik secara luas, orkestra perlu disajikan dalam format dan rasa yang paling mudah dicerna.
Hal ini pula yang tampaknya coba dilakukan oleh Bucky Wikagoe saat memperkenalkan Bandung Orchestra di Gedung Kesenian Sunan Ambu Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, Senin (22/12). Musik orkestra disuguhkan bukan hanya dalam harmonisasi repertoar klasik yang asing dan berat bagi sebagian pencinta musik Bandung, tetapi ditawarkan dalam berbagai bentuk dan variasi komposisi, mulai dari klasik, pop, jazz, pop sunda, rock, hingga musik religius. Memang terasa aneh untuk standar konser orkestra.
Penyajian Bandung Orchestra tidak tampil layaknya sebuah pertunjukan yang teguh pada kaidah orkestra secara utuh. Tiap komposisi yang ditampilkan tidak saling berhubungan antara satu dan yang lain karena memang secara ekstrem berasal dari genre yang berbeda. Di setiap penampilan, sang vokalis selalu ada jeda yang dibawakan oleh pembawa acara.
Bisa jadi, ini adalah sebuah trik menawarkan sesuatu yang dianggap berat dan asing lewat sesuatu yang ringan dan familiar sehingga mudah diterima publik musik. Dari situlah mengalir nomor-nomor renyah pop "Wow" dan "Cinta" yang dulu pernah dipopulerkan oleh Si Burung Camar, Vina Panduwinata. Atau lagu sendu dan menyentuh milik Bimbo, "Balada Seorang Biduan" dan "Manis dan Sayang"-nya Koes Plus, serta nomor rock "Uang" milik lady rocker Bandung, Nicky Astria.
"Musik adalah bahasa hati nurani yang paling jujur. Oleh karena itu, untuk menikmatinya kita harus ceria, jangan terlalu serius," kata Wakil Gubernur Jawa Barat H. Dede Yusuf, saat memberi sambutan.
Mungkin untuk menciptakan kesan bahwa pergelaran itu adalah sebuah konser orkestra, repertoar "Winter Games" milik David Foster disuguhkan sebagai pembuka. Seperti komposisi aslinya, di bawah konduktor Amirudin Sitompul, "Winter Games" lebih banyak didominasi oleh permainan piano Rony Rahmat, yang diimbangi dengan permainan string biola dan perkusi.
Hal yang sama juga terjadi pada nomor "Wow", kehadiran tiga vokalis yang lebih dominan tampil dengan gaya panggungnya, menjadikan musik hanya sebagai pengiring. Hal serupa juga terjadi saat ibu-ibu pejabat Kota Bandung yang tergabung dalam kelompok vokal "Suara Kania" tampil membawakan tembang "Buah Hati" dan "Cinta".
Kehadiran musik Bandung Orchestra baru sedikit terasa saat mengiringi penampilan trio Bimbo, Sam, Jaka, dan Acil. Tembang religius "Sajadah Panjang" dan "Balada Seorang Biduan", warna string sebuah orkestra begitu terasa, terutama pada bagian refrain. Begitu pula saat duet gitar klasik Royke B. Koapaha dan Eko Jatmiko membawakan komposisi "La Vie Breve" (Manuel De Falla), "Rasa" Bandung Orchestra mulai merasuk pendengaran penonton. Mungkin khawatir mengundang kantuk, sayangnya, nomor "La Vie Breve" dimainkan sangat singkat.
Sepertinya, Christopher Abimanyu memang ditakdirkan menjadi bagian tak terpisahkan dari opera dan orkestra. Puluhan personel Bandung Orchestra tak mau menyia-nyiakan kesempatan mengerahkan kemampuan mereka saat mengiringi sang penyanyi tenor asal Bandung itu melantunkan tembang melankolis "You Raise Me Up" yang sempat populer lewat suara ajaib Josh Groban. Namun, musik orkestra kembali terasa ringan ketika Cristopher berduet bersama Andy /rif lewat tembang "Manis dan Sayang".
Musik ringan juga terasa ketika vokalis pop sunda Rika Rafika melantunkan tembang "Layung Galunggung" dan "Mojang Priangan". Begitu pula saat saat mantan lady rocker Nicky Astria melantunkan tembang "Lentera Cinta" dan "Uang" di pengujung pertunjukan, nuansa orkestrasi yang terbangun di tengah pertunjukan, segera lenyap dari panggung, tenggelam oleh melodi gitar dan keyboard yang dominan dalam tata suara yang jauh dari unsur akutik.
Sekali lagi, dengan segala maaf, meski lagu-lagu yang dipetik bukan komposisi klasik sebagaimana umumnya sebuah orkestra, unsur dan kultur musik orkestra sudah terasa. Hanya yang patut disayangkan, meski penonton sebelumnya sudah diatur dengan sederetan kode etik perilaku yang sangat ketat selama pertunjukan berlangsung, masih saja ada penonton yang melanggar dengan seenaknya keluar masuk gedung dan membunyikan HP. Ya, inilah musik gado-gado orkestra ala Bandung.
Bucky Wikagoe sendiri sebagai pimpinan menyadari betul berbagai tuna dan kelemahan pada penampilan perdana Bandung Orchestra. Bahkan, dalam beberapa hal dan atas berbagai pertimbangan, apa yang terjadi pada grup orkestranya adalah sesuatu yang disengaja. "Sebagai tawaran pertama, kami memang sengaja menampilkan sebuah orkestra yang belum murni klasik, tetapi masih campur aduk agar mudah diterima oleh penonton. Ternyata, setelah pertunjukan, banyak yang bilang, ’oh enak juga’," kata Bucky.
Soal tata suara yang kurang akustik dan tidak sesuai dengan persyaratan sebuah pertunjukan orkestra, Bucki juga tak membantah. Hal itu terjadi karena tidak adanya gedung pertunjukan di Kota Bandung yang representatif untuk sebuah pertunjukan konser orkestra. "Tadinya saya ingin tampil di Gedung Merdeka karena di sana akustiknya bagus. Tapi, saya tidak tahu gimana," kata kakak kandung mantan lady rocker Nicky Astria ini.
Menurut Bucky, apa yang dilakukannya dengan Bandung Orchestra adalah sebuah upaya rintisan untuk mewujudkan salah satu mimpinya agar Bandung punya ikon orkestra yang bisa dibanggakan. "Bandung kan terkenal sebagai kota budaya dan gudangnya musisi di tanah air, tetapi sayangnya, belum punya ikon musik orkestra," ujarnya.
Oleh karena itu, ia mengetuk seluruh pemangku kepentingan yang ada, baik Pemkot Bandung maupun Pemprov Jabar, agar punya mimpi yang sama, membangun Bandung sebagai kota budaya dan seni yang bisa diperhitungkan di Indonesia. Salah satunya adalah kebutuhan akan hadirnya sebuah gedung yang representatif untuk pertunjukan kesenian. "Saya sih punya mimpi Bandung bisa punya gedung konser sekelas Opera House (Sydney)," kata Bucky. (Retno H.Y./Muhtar IT/"PR")

Tidak ada komentar:

Posting Komentar